Jumat, 27 Maret 2009
Drop D tuning
Drop D adalah setelan gitar dimana senar n0:6 yang biasanya bernada E diturunkan 2 fret menjadi D. Sehingga 6 senar gitar tersebut bernada sebagai berikut:
senar no 6 bernada D
senar no 5 bernada A
senar no 4 bernada D
senar no 3 bernada G
senar no 2 bernada B
senar n0 1 bernada E
Drop D sangat mudah dimainkan karena cukup penggunankan 1 jari saja sebuah cord sudah bisa dimainkan. Keunggulan drop D juga bisa menghasilkan suara yang lebih rendah sehingga cordnya bisa terdengar lebih berat.
Tapi drop D ini juga ada susahnya, susahnya yaitu kalau kita memainkan cord standard yang melibatkan senar no6 (inget senar no6 sudah turun 2 fret), kesulitan lainya adalah kita cenderung sedikit melebarkan jari kita karena untuk memainkan nada dari senar no5 ke no 6 jarak nada per fret agak jauh (2 fret lebih rendah dari biasanya). Tapi bagaimanapun juga, drop D sangat menyenangkan untuk dimainkan. Sekian yang bisa saya sharing, selamat berDrop D ria.
Sabtu, 07 Februari 2009
Karya anak bangsa yang terpasung
Baru tadi pagi saya menonon TV. Dan lagi saya lihat sebuah film baru karya anak bangsa di cekal oleh pihak tertentu. Dan beberapa saat berikutnya berita pencekalan yang lainya pun diberitakan. Yaitu berita pencekalan terhadap Tari Jaipong yang merupakan ciri khas dari Jawa Barat. Jantung saya pun mulai berdegup lebih kencang, tensi saya terasa naik (berlebihan, hehe...). Apakah ini bukti dari sempitnya pemikiran bangsa kita sehingga sebuah karya seni harus di pasung di ikat sedemikian rupa.
Tari Jaipong yang merupakan ciri khas dari Jawa barat yang dari dulu emang khas dengan goyangan dan kebayanya kini telah di cekal oleh gubernurnya sendiri. Dipaksa untuk menghilangkan goyanganya dan disuruh mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Kalau tidak memakai kebaya dan tidak ada goyanganya apakah masih bernamanya jaipong? Kemudian pikiran saya pun semakin merambat. Jangan-jangan hal ini juga akan terjadi pada insan seni yang lainya termasuk para seniman musik. How come? Bagaimana bisa sebuah karya seni berkembang jika selalu di hujat diharamkan oleh pihak-pihak tertentu. Apakah ini merupakan bukti mulai di terapkanya RUU AP? apa jadinya seniman di negri ini? Dimana kebebasan berkarya? Kapan kemurnian sebuah karya akan bisa dinikmati? Saya hanya bisa menyesalkan, perasaan menggebu-gebu di dalam hati. Tapi ini bukan aturan saya, ini hanya aturan mereka. So what?? Itu kan aturan mereka, bukan berarti harus mengikat saya dan orang lain kan?
Jumat, 06 Februari 2009
Bill Robinson The Bojangles
gambar dari: www.danceheritage.orgMasa kanak-kanak dan karier awal
Bill Robinson dilahirkan di Richmond, Virginia pada 25 Mei 1878, dari ayahnya Maxwell Robinson, seorang pekerja toko mesin, dan Maria Robinson, seorang penyanyi paduan suara. Ia dibesarkan oleh neneknya setelah kematian kedua orangtuanya ketika ia masih bayi. Ia dibaptis dengan nama Luther, sebuah nama yang tidak ia sukai. Karena itu ia mengusulkan kepada adiknya, Bill, agar mereka bertukar nama. Ketika Bill menentang, Luther meninjuinya, dan pertukaran itupun terjadilah! ('Luther' yang baru belakangan mengambil nama Percy dan menjadi seorang pemain drum terkenal.) Rincian awal kehidupan Robinson hanya dikenal lewat legenda, dan sebagian besar dilestarikan oleh Bill Robinson sendiri.
Pada usia enam tahun ia mulai menari untuk mencari nafkahnya, tampil sebagai seorang "hoofer" atau orang yang menyanyi dan menari, di taman-taman bir setempat. Dua tahun kemudian, Washington, DC, ia berkeliling dengan rombongan Mayme Remington. Pada 1891 (sumber lain menyebutkan 1892), pada usia 12 tahun, ia bergabung dengan sebuah kelompok keliling di "The South Before the War", dan pada 1905 (sumber lain mengatakan 1902) ia bekerja dengan George Cooper sebagai anggota vaudeville (artis panggung yang menggabungkan pantomim, dialog, menari, dan menyanyi). Ia memperoleh sukses besar sebagai artis klub malam dan komedi musik, dan pada 25 tahun kemudian ia menjadi salah satu toasts di Broadway. Namun baru ketika ia berusia 50 tahun ia menari di depan penonton kulit putih, setelah sebelumnya tampil hanya di lingkungan teater kulit hitam.
Pada 1908 di Chicago ia berjumpa dengan Marty Forkins, yang menjadi manajernya hingga akhir hayatnya. Di bawah asuhan Forkins, Robinson menjadi matang dan mulai tampil sebagai pemain tunggal di klub-klub malam, hingga pendapatannya semakin bertambah hingga sekitar $3500 per minggu.
Bojangles ikut mendirikan tim bisbol New York Black Yankees di Harlem pada 1936 dengan penyandang dana James "Soldier Boy" Semler. Tim ini menjadi anggota yang sukses dari Negro National League hingga dibubarkannya pada 1948.
Kematian
Pada 1949, Bill "Bojangles" Robinson meninggal dalam keadaan melarat di New York City pada usia 71 tahun karena sakit jantung. Pembawa acara televisi Ed Sullivan konon secara pribadi membayar biaya penguburannya. Lebih dari setengah juta orang berdiri di tepi jalan memberikan penghormatan terakhir kepadanya ketika proses penguburan Robinson melintas melalui Harlem ke Broadway hingga Times Square untuk mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Pekuburan Evergreens di Brooklyn.
Mengabadikan Mr. Bojangles
Fred Astaire memberikan penghormatan kepada Bill Robinson dalam tarian tap dance Bojangles of Harlem dari film klasik tahun 1936 Swing Time. Dalam film ini ia menari untuk tiga dari bayangannya. Duke Ellington mengarang musik 'Bojangles (A Portrait of Bill Robinson)', serangkaian variasi ritmis sebagai penghormatan bagi penari besar ini.
Akibatnya, tokoh Bill Robinson diabadikan dalam lagu rakyat ciptaan Jerry Jeff Walker pada "Mr. Bojangles" yang kemudian direkam oleh Nitty Gritty Dirt Band, Harry Nilsson, Bob Dylan, Harry Belafonte, Arlo Guthrie, Nina Simone, John Denver, David Bromberg, Neil Diamond, Sammy Davis, Jr, Tom T. Hall, dan Robbie Williams. Namun lagu ini tidak mengisahkan Robinson sendiri. Tampaknya lagu ini mengisahkan seorang peniru gelap, yang cukup banyak jumlahnya, yang menari untuk mendapatkan tip. Dalam pengertian tertentu, pengaruhnya menyebar ke "budaya rakyat" dengan mengilhami orang-orang yang berbakat namun miskin, untuk menari, dan dengan demikian ikut serta di dalam warisannya.
Biografi Bill Robinson diterbitkan pada 1988 dan difilmkan untuk televisi dengan judul Bojangles dan diedarkan pada 2001. Film ini memperoleh penghargaan NAACP untuk kategori Aktor Terbaik dalam mini seri TV untuk Gregory Hines yang tampil sebagai Bill Robinson.
Dalam film Tim Burton, Corpse Bride (2005); tokoh "Bonejangles" didasarkan pada dirinya.
Di copy dari : Wikipedia
Di paste di : ya disinilah.. masak di catatan belanja ibuku.. hehe...
